Pemanfaatan
ajang Annual Meetings IMF-WB di Bali yang dilaksanakan pada 12-14 Oktober 2018
di Bali, harus benar-benar dilakukan oleh Pemerintah maupun stakeholder
terkait, tidak hanya berkaitan dengan euforia yang ditimbulkan saja. Lebih dari
itu, Pemerintah Daerah harus berani dan mengupayakan posisi tawar untuk
mewujudkan keseimbangan pembangunan pariwisata Bali yang berkeadilan melalui pembangunan
infrastruktur yang bisa menjangkau seluruh wilayah Bali secara merata dan
membuka akses ke potensi-potensi obyek wisata yang belum dikembangkan secara
maksimal.
![]() |
| I Made Abdi Negara, Direktur Eksekutif Bali Business Network Di Antara Peserta Creative & Innovative Financing Forum di Ungasan Bay View Hotel & Convention |
Hal ini
disampaikan oleh I Made Abdi Negara, Direktur Eksekutif Bali Business Network
seusai menghadiri Side Event IMF – WB Annual Meetings 2018 dengan tajuk : Creative
& Innovative Financing Forum yang digelar di Ungasan Bay View Hotel
& Convention pada Rabu (10/10).
Menurut
Abdi, pemerintah daerah harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan
hadirnya berbagai entitas keuangan dunia untuk menarik investasi
sebanyak-banyaknya bagi pembangunan Bali melalui skema Infrastructur Financing, langkah ini sangat tepat mengingat Bali
memiliki banyak potensi obyek wisata yang belum dikembangkan maksimal serta
memiliki nilai tersendiri untuk para investor dan lembaga keuangan dunia. “Ini
adalah langkah penting, agar kemudian kita tidak terjebak hanya pada euforia
sesaat, namun pertemuan bersejarah yang mungkin saja tidak akan terulang lagi
10 hingga 20 tahun mendatang ini, membawa dampak jangka panjang bagi Bali”ungkapnya.
Hal
utama yang diperlukan, selain harus memiliki konsep yang baik, hendaknya juga
didukung dengan tim professional yang terdiri dari tokoh-tokoh Bali yang
memiliki wawasan dan kemampuan untuk mengetengahkan persoalan ke level
internasional, Bali memiliki banyak professional yang mampu untuk itu.
“Jika
hanya akan mengandalkan APBD, APBN, maupun BUMN, maka cita-cita untuk
pemerataan pembangunan potensi pariwisata Bali akan sia-sia belaka, karena
tentu saja APBD, APBN dan BUMN tidak akan mampu membiayainya”jelasnya.
Di sisi
lain, kesempatan atau momentum untuk bisa menyodorkan konsep-konsep pembangunan
berkelanjutan, dan calon-calon investor yang hadir langsung ke Bali, tidak
datang setiap saat. “Jika kemudian gelaran internasional ini lewat, maka
kesempatan yang sama sulit kita peroleh lagi”ujarnya.
![]() |
| Bersama Ida Bagus Werdi Budaya, Pengurus DPD APRINDO BALI |
Menurut
pria 31 tahun asal Jembrana ini, ada beberapa fokus pembangunan untuk
pengembangan potensi ekonomi yang berkelanjutan antara lain, jalan melingkar
yang menjangkau pesisir barat dan utara Pulau Bali, Pembangunan Jalan Tol
Denpasar-Jembrana, Pemisahan Pelabuhan Barang dengan Pelabuhan Pariwisata
antara Benoa dengan Celukan Bawang yang di dukung Jalan Tol atau Short Cut yang
menghubungkan Badung dengan Seririt via Pupuan dan Pembangunan Bandara
Internasional di Buleleng.
“Kajian
tentang perencanaan ini perlu disodorkan kembali, mengingat beberapa kali
usulan dan kajian ini mencuat, namun selalu mentok pada penganggaran yang tidak
mampu dicover baik oleh pemerintah pusat maupun konsorsium BUMN, sekaranglah
kesempatan untuk itu terbuka” tegasnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar