Rabu, 31 Oktober 2018

KOMPETISI DI SEKTOR RITEL KIAN KETAT : BHAKTI BALI BEKERJASAMA DENGAN GROW & PROSPER CONSULTING GELAR MINI MBA RITEL DI BALI

Kompetisi yang sangat ketat di sektor ritel, mendorong pengusaha dan professional di sektor ini harus meningkatkan kompetensi. 

Selain update dengan perkembangan ilmu ritel saat ini, pengusaha dan professional wajib memahami strategi untuk mencari solusi melalui latihan study kasus dan simulasi sesuai dengan kompetensi dasar MBA. 

Trainer Christian F. Guswai (GROW & PROSPER Consulting) bersama Bapak I Nengah Natyanta (Founder Coco Group)

Bhakti Business Assistance & Workshop (Bhakti Bali) bekerjasama dengan Grow & Prosper Consulting menyikapi hal tersebut dengan menggelar program Mini MBA in Retail yang merupakan satu - satunya dan pertama diadakan di Indonesia. 

Kelas Workshop Retail Excellence Series di Harris Hotel & Convention Dps
Mini MBA in Retail yang rencana di gelar di 3 (tiga) kota besar di Indonesia yakni di Bali, Jakarta dan Makasar ini merupakan program pelatihan professional untuk insan-insan Pengusaha dan Profesional yang menekuni dunia ritel. 

Berbeda dari pelatihan biasa, Mini MBA in Ritel ini menawarkan pembahasan mendetail melalui skema study kasus dan simulasi yang mengkombinasikan berbagai disiplin ilmu ritel. 

Menurut Abdi Negara, selaku penyelenggara sekaligus pemegang hak merek atas Program Mini MBA in Ritel, program ini adalah program pertama di sektor ritel yang merangkum semua disiplin ilmu ritel untuk pemecahan masalah - masalah yang dihadapi oleh pengusaha dan professional. "Program pelatihan selama 3 hari yang menggunakan standar kompetensi MBA ini sebenarnya adalah menjawab tantangan pengusaha ritel dari seluruh Indonesia yang selama ini rutin mengikuti workshop yang telah di selenggarakan kurang lebih selama 2 tahun belakangan"jelasnya. 

Apakah yang didapat oleh peserta program Mini MBA in Ritel ini ? Dijelaskan oleh Abdi, setidaknya ada 3 hal yang bisa didapatkan peserta, yaitu Pendekatan Ilmiah Keilmuan atas permasalahan di bidang bisnis ritel, Kompetensi Standar dalam Disiplin Ilmu Ritel dan terakhir adalah Pengusaha atau professional mampu menemukan solusi melalui pembahasan study kasus dan simulasi sesuai dengan kompetensi MBA Retail. "Diharapkan pengusaha dan professional mampu meningkatkan professionalisme di bidang retail sehingga mendorong pertumbuhan perusahaan lebih baik"imbuhnya. 

Fasilitator program Mini MBA in Ritel ini adalah Bapak Christian F. Guswai, seorang Trainer, Coach, Konsultan serta penulis 9 judul buku Retail Excellence Series dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di berbagai format bisnis ritel. 

Selain itu, beliau sudah mendampingi ratusan pengusaha ritel skala menengah dan besar untuk mendorong perbaikan dan pertumbuhan bisnis ritel di seluruh Indonesia. 

Informasi lebih lanjut mengenai program ini silahkan hubungi :
Whatsapp : 08563757178 (Bapak Abdi)
081239180091 (Ibu Ade)
Telp : 0361.4794891
atau kunjungi Fanpage : Bhakti Business Assistance & Workshop 



Selasa, 16 Oktober 2018

AUTOZOOM ACARA CHARITY FOR RECOVERY LOMBOK : PEMULIHAN MENTAL MELALUI MEDIA SENI DAN BUDAYA

Hai Guys, acara yang keren ini ternyata merupakan gagasan baru yang melihat proses pemulihan pasca bencana tidak hanya dari sisi infrastruktur dan ekonomi saja, tapi juga sisi Pemulihan Mental lewat Seni dan Budaya, kereen ya...

Yuks simak bagaimana Gabungan Komunitas Peduli Lombok mengekpresikan kepedulian ini.

Panitia Gak Mau Ketinggalan Lho.......hehehe

Ym. Lalu Satria Wangsa (Ketua Dewan Adat NTB)

Ibu Putri Koster, selain menyampaikan dukungan juga menyumbangkan Puisi kereeeeen

Sesaat sebeluma acara dimulai 

Foto bersama 

Cuplikan Video Pidato Ketua Dewan Adat NTB

IBU PUTRI KOSTER SAMPAIKAN PESAN KEPEDULIAN TERHADAP RECOVERY LOMBOK LEWAT SENI




Walaupun bencana Gempa Bumi yang terjadi di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat sudah lewat hampir dua bulan, namun proses pemulihan masih terus berlanjut. Ada 3 fokus utama proses pemulihan yang terdiri atas, Pemulihan Mental, Pemulihan Infrastruktur dan Pemukiman dan ketiga adalah Pemulihan Aktvitas Ekonomi. 
Ibu Putri Koster (tengah) bersama Ketua Dewan Adat Nusa Tenggara Barat,  I Made Abdi Negara, Budi Gautama, Agung Agra, Komandan Kodim Gianyar dan I Nengah Natya (Founder Coco Group)


Hal ini terungkap dalam kegiatan Charity For Recovery Lombok “Pemulihan Mental Melalui Media Seni & Budaya” yang dihadiri oleh Ketua Dewan Adat Nusa Tenggara Barat, Lalu Satria Wangsa dan Ibu Putri Koster pada Minggu (14/10) bertempat di Helipad Openstage Keramas Aero Park.

Kegiatan yang diinisasi oleh komunitas Peritel Bali dan Pesemetonan UNMAR tersebut, adalah kegiatan awal untuk mendeklarasikan sekaligus mengingatkan bahwa Lombok masih memerlukan uluran tangan dan sumbangsih kita di balik bencana di Palu dan Donggala yang cukup menyita perhatian beberapa waktu lalu.
Sesaat sebelum di mulai acara di Inflight Restaurant Keramas Aero Park 


Menurut I Made Abdi Negara, mewakili penggagas acara, kegiatan ini  merupakan kegiatan awal untuk mewujudkan kepedulian dan  terus mengingatkan bahwa pemulihan Lombok memiliki peran besar untuk percepatan pemulihan ekonomi Bali secara umum. “Ketika terjadi bencana Gempa di Pulau Lombok, Bali sangat terdampak, wisatawan asing banyak membatalkan kunjungan dan masyarakat Bali merasakan dampak yang sangat signifikan”jelasnya. Hal senada juga disampaikan oleh Agung Agra yang memberikan sambutan mewakili komunitas peritel Bali.

Lalu Satria Wangsa, selaku Ketua Dewan Adat menyatakan ungkapan terima kasih kepada panita atas gagasan yang di sampaikan dan sekaligus mengucapkan terima kasih atas perhatian Ibu Putri Koster atas kondisi pasca bencana Gempa di Lombok. “Benar sekali, kondisi kami saat ini masih mengalami trauma mendalam, terlebih dalam proses perbaikan pemukiman dan pemulihan ekonomi masih ada kendala-kendala yang dihadapi masyarakat di lapangan karena berkaitan dengan administrasi pemerintah”jelasnya.

Ibu Putri Koster sendiri selain menyampaikan dukungan atas acara yang digagas karena belum ada gagasan serupa yang menitikberatkan pada Pemulihan Mental, melalui media seni dan budaya yang digagas sebelumnya. “Terkadang kita hanya berpikir untuk menyumbang makanan atau uang, padahal Pemulihan Efek Trauma sangat lah penting dan media seni budaya sangat tepat karena bisa langsung menyentuh ke semua level masyarakat”jelasnya sembari menuturkan bagaimana saat gempa Seririt pernah juga mengalami trauma serupa.

Selain pemutaran video, penandatanganan MoU dan acara lain, kegiatan ini juga menampilkan penyanyi Pop Bali, Jun Bintang dan Dewa Sugama serta dihibur oleh Adi Siput MKP. Ibu Putri Koster sendiri membawakan puisi yang berjudul “Kumbakarna” diiringi dengan tarian kontemporer oleh Adi Siput MKP.



Rabu, 10 Oktober 2018

PERITEL BALI, GABUNGAN KOMUNITAS PEDULI LOMBOK BERSAMA DEWAN ADAT NUSA TENGGARA BARAT GELAR CHARITY FOR RECOVERY LOMBOK DI KERAMAS AERO PARK

Pemulihan pasca bencana adalah salah satu proses penting untuk memastikan kehidupan sosial dan ekonomi bisa berjalan kembali seperti sediakala. Tidak terkecuali dalam proses pemulihan (recovery) di Lombok pasca dihantam oleh bencana Gempa Bumi yang meluluhlantakkan kawasan Lombok Utara.

Bali yang secara langsung merupakan pulau terdekat Lombok dan memiliki banyak keterkaitan secara historis, terus bergerak untuk memberi dukungan dalam proses recovery tersebut. Salah satu aksi nyata yang dilakukan melalui Gabungan Komunitas Peduli Lombok yang bekerjasama dengan Dewan Adat Nusa Tenggara Barat dalam gelaran Charity For Recovery Lombok yang akan digelar pada Minggu, 14 Oktober 2018 di Helipad Stage Keramas Aero Park, Jalan By Pass Ida Bagus Mantra KM 28.

Gabungan Komunitas Peduli Lombok ini sendiri terdiri atas Komunitas Peritel Bali, Pesemetonan THCM-UNMAR, Bali Business Network didukung oleh Keramas Aero Park (Inflight Restaurant)

Dari 3 fokus utama dalam proses pemulihan, yakni pemulihan mental, pemulihan infrastruktur dan permukiman serta pemulihan aktivitas ekonomi, program yang diusung dalam kerjasama ini adalah "Pemulihan Mental Melalui Aktivitas Seni & Budaya". 


Digandengnya Dewan Adat Nusa Tenggara Barat melalui Ketua Dewan Adat, Lalu Satria Wangsa ini, adalah untuk menegaskan bahwa pentingnya Pemulihan Mental dengan menggunakan media seni dan budaya sebagai jembatan yang diselenggarakan secara berkesinambungan. 

Menurut Lalu Satria Wangsa yang ditemui seusai menghadiri Royal Wedding di Puri Ubud, kondisi saat ini di Lombok masih membutuhkan perhatian semua pihak. "Setidaknya dibutuhkan waktu minimal 3 - 5 tahun untuk menormalisasi keadaan"ungkapnya. 

Di sisi lain, pemulihan mental (trauma healing) masih belum menjadi  fokus utama dalam program-program yang dilaksanakan saat ini. "Padahal ini mestinya dilakukan secara paralel dengan pemulihan infrastruktur dan aktivitas ekonomi"imbuhnya. 

Satria Wangsa menyambut baik gagasan dari Gabungan Komunitas Peduli Lombok dan setuju bahwa adat budaya harus digunakan untuk melakukan pendekatan dalam pemulihan mental yang bercirikan nusantara "terima kasih atas dukungan yang diberikan kepada masyarakat adat Lombok"imbuhnya. 
Ketua Dewan Adat Nusa Tenggara Barat, Lalu Satria Wangsa

Dalam acara Charity For Recovery Lombok tanggal 14 Oktober 2018 nanti, Lalu Satria Wangsa akan menyampaikan secara langsung kondisi riil dan apa yang bisa dilakukan untuk membantu proses pemulihan dan normalisasi Lombok secara lebih cepat. 




MOMEN IMF HARUS DIMANFAATKAN UNTUK PEMBANGUNAN PARIWISATA BALI YANG SEIMBANG DAN BERKELANJUTAN

“Skema Yang Paling Mungkin Diajukan adalah Infrastructure Financing”



Pemanfaatan ajang Annual Meetings IMF-WB di Bali yang dilaksanakan pada 12-14 Oktober 2018 di Bali, harus benar-benar dilakukan oleh Pemerintah maupun stakeholder terkait, tidak hanya berkaitan dengan euforia yang ditimbulkan saja. Lebih dari itu, Pemerintah Daerah harus berani dan mengupayakan posisi tawar untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan pariwisata Bali yang berkeadilan melalui pembangunan infrastruktur yang bisa menjangkau seluruh wilayah Bali secara merata dan membuka akses ke potensi-potensi obyek wisata yang belum dikembangkan secara maksimal.


I Made Abdi Negara, Direktur Eksekutif Bali Business Network Di Antara Peserta Creative & Innovative Financing Forum di Ungasan Bay View Hotel & Convention 

Hal ini disampaikan oleh I Made Abdi Negara, Direktur Eksekutif Bali Business Network seusai menghadiri Side Event IMF – WB Annual Meetings 2018 dengan tajuk : Creative & Innovative Financing Forum yang digelar di Ungasan Bay View Hotel & Convention pada Rabu (10/10).



Menurut Abdi, pemerintah daerah harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan hadirnya berbagai entitas keuangan dunia untuk menarik investasi sebanyak-banyaknya bagi pembangunan Bali melalui skema Infrastructur Financing, langkah ini sangat tepat mengingat Bali memiliki banyak potensi obyek wisata yang belum dikembangkan maksimal serta memiliki nilai tersendiri untuk para investor dan lembaga keuangan dunia. “Ini adalah langkah penting, agar kemudian kita tidak terjebak hanya pada euforia sesaat, namun pertemuan bersejarah yang mungkin saja tidak akan terulang lagi 10 hingga 20 tahun mendatang ini, membawa dampak jangka panjang bagi Bali”ungkapnya.



Hal utama yang diperlukan, selain harus memiliki konsep yang baik, hendaknya juga didukung dengan tim professional yang terdiri dari tokoh-tokoh Bali yang memiliki wawasan dan kemampuan untuk mengetengahkan persoalan ke level internasional, Bali memiliki banyak professional yang mampu untuk itu.



“Jika hanya akan mengandalkan APBD, APBN, maupun BUMN, maka cita-cita untuk pemerataan pembangunan potensi pariwisata Bali akan sia-sia belaka, karena tentu saja APBD, APBN dan BUMN tidak akan mampu membiayainya”jelasnya.



Di sisi lain, kesempatan atau momentum untuk bisa menyodorkan konsep-konsep pembangunan berkelanjutan, dan calon-calon investor yang hadir langsung ke Bali, tidak datang setiap saat. “Jika kemudian gelaran internasional ini lewat, maka kesempatan yang sama sulit kita peroleh lagi”ujarnya. 

Bersama Ida Bagus Werdi Budaya, Pengurus DPD APRINDO BALI




Menurut pria 31 tahun asal Jembrana ini, ada beberapa fokus pembangunan untuk pengembangan potensi ekonomi yang berkelanjutan antara lain, jalan melingkar yang menjangkau pesisir barat dan utara Pulau Bali, Pembangunan Jalan Tol Denpasar-Jembrana, Pemisahan Pelabuhan Barang dengan Pelabuhan Pariwisata antara Benoa dengan Celukan Bawang yang di dukung Jalan Tol atau Short Cut yang menghubungkan Badung dengan Seririt via Pupuan dan Pembangunan Bandara Internasional di Buleleng.



“Kajian tentang perencanaan ini perlu disodorkan kembali, mengingat beberapa kali usulan dan kajian ini mencuat, namun selalu mentok pada penganggaran yang tidak mampu dicover baik oleh pemerintah pusat maupun konsorsium BUMN, sekaranglah kesempatan untuk itu terbuka” tegasnya.