Perbincangan mengenai merek, dewasa ini menjadi menarik. Tidak hanya ketika didengungkannya kembali patriotisme dalam konteks ekonomi, tetapi lebih dari itu tidak lama lagi Indonesia akan memasuki era perdagangan bebas Asia Tenggara dalam skema ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC)
Mengapa merek kemudian berperan
penting?
Membaca salah satu ulasan Majalah
Tempo, yang berjudul Kebangkitan Nasional
Ke-2, Kebangkitan Merek, jelas tersirat bagaimana merek secara nasional
sangat penting dan berkaitan dengan kedaulatan ekonomi bangsa Indonesia.
Demikian juga Bali, dengan
segudang nama besar, Bali memiliki posisi penting dalam segala aktivitas
ekonomi baik nasional dan internasional. Berbagai jenis bisnis yang melibatkan
korporasi lintas Negara berlomba-lomba untuk bisa melakukan aktifitas bisnisnya
di Bali. Lihatlah kawasan Nusa Dua atau kawasan Kuta, sebagai etalase bagaimana
merek asing sangat mendominasi industri dan perdagangan di Bali.
Dalam teori Influential of Merk, keberadaan merek bisa menjadi kekuatan dan
legitimasi dari sebuah Negara. Bagaimana merek Toyota atau Honda yang membuat
Jepang tetap dipandang sebagai Negara terdepan dalam teknologi kendaraan
bermotor, atau bagaimana Apple, General Electric dan Mc Donalds memperkuat
hegemoni Amerika Serikat.
Bagaimana kalau kemudian, Influential of Merk kita pinjam untuk
memperkuat pengaruh Bali dikancah nasional? Secara tradisional, Bali masih
menjadi trendsetter kemajuan
pariwisata dan dunia bisnis di Indonesia, kemampuan untuk menarik wisatawan mancanegara
meningkat dari waktu ke waktu. Merilis data dari Berita Resmi Statistik BPS per-tanggal
1 Februari 2013, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali di tahun 2012 naik
4,07 persen dari jumlah kumulatif di tahun 2011 yang berjumlah 2,8 juta orang.
Meminjam data diatas, seyogya
daya tarik Bali juga mampu mendongkrak popularitas merek lokal Bali setidaknya
dikancah nasional. Ukuran popularitas merek dari segi peningkatan legitimasi
daerah tentu menjadi hal yang menarik dan mungkin untuk diwujudkan.
Ada beberapa teori yang menjadi
indikator pendukung. Selain meningkatnya jumlah konsumen menengah keatas dan
perubahan pola konsumsi masyarakat menengah kebawah serta semakin membaiknya
sektor pariwisata yang berarti memperluas market,
keberadaan merek lokal dengan konsep yang baik dan terarah juga telah
memberikan harapan bersaingnya merek-merek lokal Bali dimasa mendatang.
Mengacu pada hipotesa awal, jika
kemudian melalui merek pengaruh dan legitimasi Bali dapat dipertahankan, maka
yang selanjutnya diperlukan adalah kerja kolektif. Setiap sektor yang
memberikan pengaruh secara langsung maupun tidak langsung mesti berperan dalam
hal ini.
Seperti halnya merek-merek
internasional yang diapresiasi oleh negara asalnya ketika melakukan penetrasi
atau menaikkan market value, hal yang
sama juga diharapkan dari pemerintah propinsi Bali dalam upaya untuk mendorong
penetrasi merek lokal ke kancah nasional.
Program – program fasilitasi dan
mediasi Pemerintah Propinsi Bali yang
ada saat ini mesti bisa ditingkatkan ke arah yang lebih besar, yakni skema
mendorong merek lokal ke tingkat nasional dengan grand
design yang jelas dan dukungan yang sistematis, baik dari sektor regulasi
maupun aksesibiltas perbankan.
Demikian juga stakeholder lain,
mulai dari masyarakat, kelompok-kelompok sosial maupun asosiasi-asosiasi dan
praktisi dibidangnya masing-masing dengan berbagai tingkatan dan gerakan yang
massif akan memberikan pengaruh besar dalam upaya mendorong peningkatan merek
lokal ke kancah nasional.
Jika hal ini kemudian telah
dipenuhi dan merek lokal Bali mampu berbicara di pentas nasional, langkah
selanjutnya adalah bagaimana kemudian merek tersebut dapat didorong menjadi
pemain global. Kedengarannya memang mustahil, tetapi hal tersebut mungkin kita
bisa analogikan seperti apa yang dipikirkan Kolonel
Harland Sanders ketika memulai KFC dari membuka lapak di depan rumahnya.
Sesuatu yang kemudian diperjuangkan dengan konsep yang jelas yang akhirnya
mampu membuat lompatan besar, meski memang membutuhkan waktu dan dedikasi.
AEC 2015 sebagai momentum
Sebagian besar korporasi dunia
melihat Indonesia sebagai big market. Jumlah penduduk dan peningkatan
kelas menengah yang semakin tinggi serta pola konsumsi masyarakat yang cepat
menyesuaikan dengan trend modernisasi membuat Indonesia masih dipandang sebagai
pasar potensial dunia.
Hal itu berarti, kompetisi
korporasi dunia masih akan berlanjut, jilid demi jilid persaingan untuk merebut
pasar Indonesia akan menjadi jawaban “apakah kita bisa survive atau hanya menjadi penonton setia dari sebuah kolonialisasi model baru?”
Momentum ASEAN ECONOMIC
COMMUNITY 2015 bisa menjadi sebuah awal untuk melakukan langkah-langkah
strategis dalam rangka menyusun Roadmap Indonesia
opportunity of global market. Melakukan revitalisasi terhadap
peluang-peluang yang mampu mendorong merek lokal dan nasional menjadi pemain
global yang disegani.
Proses ini tentu sudah dipikirkan
oleh berbagai pihak, program Indonesian
Young Leader Forum oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) adalah
salah satu implementasi. Revitalisasi bisa dilakukan dari berbagai aspek. Tidak
semata produk dan strategi namun juga karakter dan konsensus dari para pelaku
dan stakeholder itu sendiri.
Meminjam hasil study Mckinsey
tentang Indonesia yang dikutip majalah tempo edisi 20-26 Mei 2013 “the archipelago economy : Unleashing
Indonesia’s Potential” . Ramalan tentang Indonesia yang akan berada pada
posisi ke-7 negara terbesar di dunia pada 2030, hendaknya mendorong kita untuk
berusaha menjadi pelaku sejarah bukan hanya sekedar penonton, atau malah
tersisih dari hegemoni ekonomi dunia yang akan menerkam individu-individu yang
tidak siap berkompetisi.
Penulis : I M. Abdi Negara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar