Minggu, 24 Juli 2016

MEMIMPIKAN MEREK LOKAL BALI DI PENTAS NASIONAL (REPRO 2015)


Perbincangan mengenai merek, dewasa ini menjadi menarik. Tidak hanya  ketika didengungkannya kembali patriotisme dalam konteks ekonomi, tetapi lebih dari itu tidak lama lagi Indonesia akan memasuki era perdagangan bebas Asia Tenggara dalam skema ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC)

Mengapa merek kemudian berperan penting?
Membaca salah satu ulasan Majalah Tempo, yang berjudul Kebangkitan Nasional Ke-2, Kebangkitan Merek, jelas tersirat bagaimana merek secara nasional sangat penting dan berkaitan dengan kedaulatan ekonomi bangsa Indonesia. 
Demikian juga Bali, dengan segudang nama besar, Bali memiliki posisi penting dalam segala aktivitas ekonomi baik nasional dan internasional. Berbagai jenis bisnis yang melibatkan korporasi lintas Negara berlomba-lomba untuk bisa melakukan aktifitas bisnisnya di Bali. Lihatlah kawasan Nusa Dua atau kawasan Kuta, sebagai etalase bagaimana merek asing sangat mendominasi industri dan perdagangan di Bali.
Dalam teori Influential of Merk, keberadaan merek bisa menjadi kekuatan dan legitimasi dari sebuah Negara. Bagaimana merek Toyota atau Honda yang membuat Jepang tetap dipandang sebagai Negara terdepan dalam teknologi kendaraan bermotor, atau bagaimana Apple, General Electric dan Mc Donalds memperkuat hegemoni Amerika Serikat.
Bagaimana kalau kemudian, Influential of Merk kita pinjam untuk memperkuat pengaruh Bali dikancah nasional? Secara tradisional, Bali masih menjadi trendsetter kemajuan pariwisata dan dunia bisnis di Indonesia, kemampuan untuk menarik wisatawan mancanegara meningkat dari waktu ke waktu. Merilis data dari Berita Resmi Statistik BPS per-tanggal 1 Februari 2013, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali di tahun 2012 naik 4,07 persen dari jumlah kumulatif di tahun 2011 yang berjumlah 2,8 juta orang.
Meminjam data diatas, seyogya daya tarik Bali juga mampu mendongkrak popularitas merek lokal Bali setidaknya dikancah nasional. Ukuran popularitas merek dari segi peningkatan legitimasi daerah tentu menjadi hal yang menarik dan mungkin untuk diwujudkan.
Ada beberapa teori yang menjadi indikator pendukung. Selain meningkatnya jumlah konsumen menengah keatas dan perubahan pola konsumsi masyarakat menengah kebawah serta semakin membaiknya sektor pariwisata yang berarti memperluas market, keberadaan merek lokal dengan konsep yang baik dan terarah juga telah memberikan harapan bersaingnya merek-merek lokal Bali dimasa mendatang.
Mengacu pada hipotesa awal, jika kemudian melalui merek pengaruh dan legitimasi Bali dapat dipertahankan, maka yang selanjutnya diperlukan adalah kerja kolektif. Setiap sektor yang memberikan pengaruh secara langsung maupun tidak langsung mesti berperan dalam hal ini.
Seperti halnya merek-merek internasional yang diapresiasi oleh negara asalnya ketika melakukan penetrasi atau menaikkan market value, hal yang sama juga diharapkan dari pemerintah propinsi Bali dalam upaya untuk mendorong penetrasi merek lokal ke kancah nasional.
Program – program fasilitasi dan mediasi Pemerintah Propinsi Bali  yang ada saat ini mesti bisa ditingkatkan ke arah yang lebih besar, yakni skema mendorong merek lokal ke tingkat nasional dengan  grand design yang jelas dan dukungan yang sistematis, baik dari sektor regulasi maupun aksesibiltas perbankan.
Demikian juga stakeholder lain, mulai dari masyarakat, kelompok-kelompok sosial maupun asosiasi-asosiasi dan praktisi dibidangnya masing-masing dengan berbagai tingkatan dan gerakan yang massif akan memberikan pengaruh besar dalam upaya mendorong peningkatan merek lokal ke kancah nasional.
Jika hal ini kemudian telah dipenuhi dan merek lokal Bali mampu berbicara di pentas nasional, langkah selanjutnya adalah bagaimana kemudian merek tersebut dapat didorong menjadi pemain global. Kedengarannya memang mustahil, tetapi hal tersebut mungkin kita bisa analogikan seperti apa yang dipikirkan Kolonel Harland Sanders ketika memulai KFC dari membuka lapak di depan rumahnya. Sesuatu yang kemudian diperjuangkan dengan konsep yang jelas yang akhirnya mampu membuat lompatan besar, meski memang membutuhkan waktu dan dedikasi.

AEC 2015 sebagai momentum
Sebagian besar korporasi dunia melihat Indonesia sebagai big market. Jumlah penduduk dan peningkatan kelas menengah yang semakin tinggi serta pola konsumsi masyarakat yang cepat menyesuaikan dengan trend modernisasi membuat Indonesia masih dipandang sebagai pasar potensial dunia.
Hal itu berarti, kompetisi korporasi dunia masih akan berlanjut, jilid demi jilid persaingan untuk merebut pasar Indonesia akan menjadi jawaban “apakah kita bisa survive atau hanya menjadi penonton setia dari sebuah kolonialisasi model baru?”
 Momentum ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 bisa menjadi sebuah awal untuk melakukan langkah-langkah strategis dalam rangka menyusun Roadmap Indonesia opportunity of global market. Melakukan revitalisasi terhadap peluang-peluang yang mampu mendorong merek lokal dan nasional menjadi pemain global yang disegani.
Proses ini tentu sudah dipikirkan oleh berbagai pihak, program Indonesian Young Leader Forum oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) adalah salah satu implementasi. Revitalisasi bisa dilakukan dari berbagai aspek. Tidak semata produk dan strategi namun juga karakter dan konsensus dari para pelaku dan stakeholder itu sendiri.
Meminjam hasil study Mckinsey tentang Indonesia yang dikutip majalah tempo edisi 20-26 Mei 2013 “the archipelago economy : Unleashing Indonesia’s Potential” . Ramalan tentang Indonesia yang akan berada pada posisi ke-7 negara terbesar di dunia pada 2030, hendaknya mendorong kita untuk berusaha menjadi pelaku sejarah bukan hanya sekedar penonton, atau malah tersisih dari hegemoni ekonomi dunia yang akan menerkam individu-individu yang tidak siap berkompetisi.

Penulis : I M. Abdi Negara





















Tidak ada komentar:

Posting Komentar